Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

Screenplay V For Vendetta: Adegan Peledakan Gedung Old Bailey

V For Vendetta Movie, 2005.

Berikut ini adalah screenplay untuk film V for Vendetta, salah satu film favorit saya. Screenplay yang saya posting disini adalah Adegan peledakan Gedung Old Bailey, Gedung Pengadilan di London, Inggris.

Dalam film ini, diceritakan kalau Inggris sudah dikuasai oleh rezim otoriter yang fanatik. Tidak ada kebebasan berpendapat seperti dahulu. Masyarakat secara terus menerus hidup dalam suasana yang mencekam dan penjara sosial pemerintah.

Peledakan Gedung Old Bailey beserta patung dewi keadilan merupakan simbol kalau sudah tidak ada keadilan di negeri Inggris. Dengan meledakkan patung beserta Gedung pengadilan tersebut, V, karakter utama dalam film ini ingin menyampaikan protesnya kepada pemerintah. 

Scene ini ditampilkan setelah V menyelamatkan Evey, sang heroine dari fingerman, polisi pemerintah yang korup dan tidak adil. V mengajak Evey ke atap gedung untuk menyaksikan 'konser musiknya'.

---------


EXT. KOTA LONDON, ATAP GEDUNG DI TENGAH KOTA – MALAM HARI

Menara Gedung Old Bailey berdiri dengan latar belakang kota London yang berpendar di malam hari. Jam malam membuat London gelap dan mencekam, sunyi tanpa suara. Patung emas Dewi keadilan bertengger di puncak kubah Old Bailey.

EVEY (V.O)
(Terkesima)
Sungguh indah diatas sini

Evey dan V berdiri sejajar memandang pemandangan kota

V
Tidak ada panggung yang lebih sempurna dari tempat ini

EVEY
Aku tak melihat satu pun alat musik

V
(berbicara dengan nada yang lembut namun sarkastik)
Kakuatan observasimu benar-benar bagus

Tiba-tiba, V mengeluarkan baton, tongkat untuk konduktor dari dalam jubbah hitamnya.

V
(berbicara dengan gaya seorang pendongeng, kuat dan teatrikal)
Tunggu! Aku mempersembahkan konser ini untuk Dewi keadilan!
(mengangkat tangannya dan menunjuk patung dewi keadilan di puncak kubah Old bailey)
Disaat libur kelihatannya dia tak ikut ambil bagian.

V dan Evey menatap tulisan di bawah monument Dewi keadilan yang berbunyi BELA ANAK-ANAK ORANG MISKIN-HUKUM PELANGGAR HUKUM. Kemudian menatap patung emas Dewi Keadilan.

V (V.O)
(berbicara dengan nada jijik namun lembut)
Dan ini untuk peniru yang sedang menggantikannya

V
(menoleh ke Evey dan bertanya masih dengan nada teatrikal)
Katakan, kau tahu ini hari apa, Evey?

EVEY
Um…
(berusaha mengingat, dahi berkerut)
Tanggal 4 November?


V
(berbicara lambat dengan nada merenung)
Sudah lewat

Suara bel tengah malam terdengar sayup-sayup di tengah kota London yang sunyi. V memandang kota dengan khidmat.

V
(dengan nada pelan dan merenung, seperti mengingat suatu peristiwa duka yang membuatnya sedih)
Ingatlah, ingatlah, tanggal 5 November. Plot Bubuk mesiu, pengkhianatan berdarah dan persekongkolan!

Secara perlahan, V berjalan ke tepi balkon. Evey memandnagnya dengan sorot bingung.

V
(masih dengan nada merenung)
Aku tahu betul mengapa Penghiatan Plot bubuk Mesiu seharusnya tidak pernah dilupakan.

V mengetukkan tongkat konduktornya ke pipa besi dengan tangan kirinya dua kali, suaranya berdenting pelan di tengah malam yang sunyi. Bel tengah malam dari Big Ben masih terdengar di kejauhan.

V
(suara kembali normal)
Pertama, music pengantar.
(bel tengah malam berdentang semakin keras)
Ya….
(mulai menggerakkan tangannya seperti konduktur)
ya, alat music gesek
Dengar baik-baik, tidakkah kau mendnegarnya?

Evey memandangnya seperti V sudah kehilangan akalnya

V (V.O)
Sekarang alat music tiup!

Evey mulai mendengar suara musik. Dia terkesiap dan berlari ke ujung balkon.

EVEY
(berseru kaget)
Aku bisa mendengarnya!


Dari jalanan, tiba-tiba terdengar musik orkestra Tchaikovsky 1812 menggema dari segala jalan kota London dengan suara lantang. Pengeras suara yang terpasang di lorong-lorong kota London serentak mengeluarkan musik.

Seorang gadis kecil membuka jendela kamarnya dengan girang dan melihat pengeras suara.

GADIS KECIL
(berseru dengan nada gembira)
Lihat keluar ibu! Mereka memainkan musik!

Di jalan-jalan kota London yang sepi, orang-orang mulai keluar rumah dengan pakaian tidur. Berbisik dengan bingung sambil memandangi pengeras suara yang terus memainkan musik orchestra.

EVEY
(Menoleh ke V dan bertanya dengan nada tak percaya)
Bagaimana kau bisa melakukannya?!

V
(tetap menggerakkan tangannya seperti mengkonduktori orchestra, berbicara dengan nada tenang)
Tunggu
(berseru dengan atusias)
ini kresendo!

Musik sampai pada klimaksnya dan V menjulurkan tangannya seolah menyembah Patung Dewi Keadilan. Stik konsuktor tetap dimainkan di tangan kanannya.

Musik menggema bersamaan dengan ledakan yang tiba-tiba dari dalam petung dewi keadlian , membuatnya hancur berkeping-keping dengan suara ledakan yang keras. Diikuti oleh kubah Old Bailey yang ikut meledak. V tertawa terbahak-bahak ketika kembang api meluncur ke langit dari dalam ledakan dengan suara mendesing nyaring.

V
(masih tertawa bahagia dan berseru dengan antusias)
Sungguh indah, bukan?!

Evey terperangah memandang kembang api yang meluncur ke langit dengan meriah. Sorot matanya ngeri sementara V masih tertawa dengan bahagia disampingya. Luncuran kembang api berwarna merah dan oranye membentuk huruf V dengan lingkaran di sekelilingnya di tengah langit malam. Memecah kesunyian kota dengan suara desingan dan ledakan kembang api di tengah malam.

CUT OUT

 ------

Video scene V for Vendetta untuk peledakan Gedung Old Bailey:

credits:

picture: https://truthandshadows.files.wordpress.com/2014/02/v-for-vendetta.jpg


 

 

 


Memento Movie Review: Living In The Past







Momento adalah film bergenre misteri dan thriller kaya Christopher Nolan tahun 2000. Ketika pertama kali ditayangkan, Momento memiliki pesaing berat yakni Pearl Harbour dan The Mummy Return. Meskipun kalah secara budget dan euphoria penonton, Memento menjadi film yang paling lama bertahan di bioskop karena plotnya yang tidak biasa dan membuat penonton penasaran.
Memento berkisah tentang Leonard Shelby, pria asal San Fransisco yang mengalami anterograde amnesia yang berusaha membalas dendam untuk kematian istrinya yang diperkosa dan dibunuh. Leonard tidak mampu membuat memori baru setelah kepalanya dihamtam saat berusaha menyelamatkan istrinya, sehingga memorinya hanya berhenti di saat istrinya meninggal.
Untuk membuatnya ingat akan kejadian sebelumnya, Leonard mentato petunjuk dan informasi tentang pembunuh istrinya di tubuhnya dan menjalani hari demi hari untuk membalas dendam.
Hal yang paling menarik dari Memento adalah plotnya. Film dimulai dengan credit dengan latar belakang foto yang semakin digoyangkan, isinya semakin menghilang. Kemudian film dimulai dengan adgen dimana Leonard memotret orang yang baru saya dia tembak kepalanya.
Setelah itu adegan mengalami reverse dimana semua darah, peluru dan tembak kembali ke awal hingga menampilkan adegan mengganggu ketika Leonard menembak kepala orang yang ada di depannya.
Setting pun beralih ke sebuah motel, dimana Leonard terbangun dan bertanya kenapa dia ada di kamar tersebut. Semua ditampilkan dengan warna hitam-putih. Dan seterusnya film beralih dari adegan yang ditampilkan berwarna dan hitam putih.
Sekilas, orang akan mengira kalau kisah Leonard ditampilkan dengan cara terbalik, dari akhir ke awal. Namun kenyataannya tidak. Christopher Nolan membuat memento dengan plot yang berjalan mundur, sekaligus berjalan maju. Ada 22 potongan scene yang digunkan untuk menceritakan Memento. 11 adegan berjalan mundur, dan 11 adegan lainnya berjalan maju.
Uniknya, Nolan membuat 11 adegan tersebut saling berselang-seling satu sama lain. 11 adegan yang berjalan mundur ditampilkan dengan gambar berwarna, sedangkan 11 adegan yang maju ditampilkan secara hitam-putih. Jika adegan mundur (berwarna) akan diberi simbol alfabet sedangkan adegan yang  berjalan maju (hitam-putih) diberi simbol angka, maka plot memento akan berjalan seperti ini:
Credit-Z-1-Y-2-X-3-W-4-V-5-U-6-T-7-S-8-R-9-Q-10-P-11
Adegan P dan 11 yang merupakan bagian dimana plot yang maju dan mundur digambarkan dengan sangat baik dengan transisi warna, dari warna hitam dan putih menjadi berwarna.  Adegan ini adalah ketika Leonard habis menembak Jimmy, setelah memotret, tangan Leonard yang memegang foto bertransformasi dari hitam putih menjadi berwarna, baru kemudian adegan menjadi berwarna hingga akhir film.
Secara cerita, Memento memang tidak terlalu unggul. Sebelum seperempat durasi dimulai, saya pribadi sudah bisa menebak kalau Teddy yang ditembak Leonard di awal bukan orang yang membunuh istrinya. Namun yang mengejutkan adalah akhir film atau dalam hal ini, adalah awal kisah Leonard menemukan pembunuh istrinya, dimana Leonard ternyata yang menciptakan semua misteri dan pemburuan pembunuhan isterinya.
Meskipun begitu, karakter Leonard diceritakan secara mendalam oleh Nolan dalam film ini. Leonard yang dulunya merupakan penyelidik asuransi yang terobsesi akan salah satu pasiennya, Sammy yang mengalami anterograde amnesia seperti dirinya.
Namun Leonard bersikukuh kalau dirinya berbeda dengan Sammy. Sammy tidak memiliki sistem, dan tidak bisa menyadari kalau dia mengalami amnesia, sementara Leonard mampu mengetahui dan melanjutkan hiduonya melalui catatan dan tattoo yang dia tulis di sekujur tubuhnya.
Yang menarik adalah karena di akhir, John Edward Gammel (John G) mengungkapkan kalau cerita tentang Sammy adalah karangan Leonard sendiri, untuk menutupi kebenaran kalau dia yang membunuh istrinya dengan menyuntikkan insulin berkali-kali. Dalam suatu review oleh Salon, penulisnya mengungkapkan kalau Nolan sebenarnya ingin mengkritisi perilaku manusia dalam karakter Leonard Shelby.
Dalam monolognya, Leonard mengungkapkan Sammy tidak ingat akan siapa orang yang dilihatnya setelah 15 menit, namun dia berusaha terlihat mengenali orang tersebut karena tidak ingin dianggap aneh atau berbeda. Hal ini mencerminkan perilaku manusia yang tidak mau dianggap berbeda dari yang lain, bahkan dengan berpura-pura.
Yang menarik lagi, adalah bahkan setelah Teddy (John G) membeberkan semua kebenaran kepada Leonard bahwa Leonard sudah membunuh orang yang membunuh istrinya, dan bahkan membunuh orang lain untuk menghidupkan imajinasinya, dia tetap memilih kebohongan yang dia ciptakan sendiri. Bahkan akhirnya menuliskan ‘Don’t believe his lies,’ di foto Teddy yang akhirnya menjadikan Teddy sasaran balas dendamnya. Dan berakhir pada kematian Teddy di akhir film.
Teddy juga salah karena dia memanipulasi amnesia Leonard sebelumnya. Teddy memanfaatkan motivasi balas dendam Leonard untuk membantunya menghabisi gembong narkoba yang diburu oleh Teddy. Sehingga dalam film ini, tidak ada karakter antagonis maupun protagonis.Dan pada akhirnya, Leonard memilih untuk mempercayai kebohongan yang diciptakannya sendiri agar hidupnya yang hanya memiliki durasi ingatan selama beberapa menit memiliki arti.

Ditulis oleh Saktia Golda S
cr foto: http://cinemags.id.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/wp-content/uploads/2015/11/Remake-Memento.jpg